BAJU KOKO, BAJUNYA ORANG ISLAM ?

          Saat bulan Ramadhan tiba, adalah saat-saat dimana kata semarak, sukacita, dan kesucian seolah saling berpadu-padan satu sama lain dan menimbulkan kesan yang khusus akan suatu perayaan. Petasan dan ketupat sayur tidak pernah luput dari semarak takbir malam Lebaran. Di esok pagi yang fitri, adzan shalat eid pun berkumandang. Senyum bahagia sekaligus haru bersamaan menyelimuti ibu kota jakarta di hari Lebaran.
            Namun, yang berbeda dan menjadi spesial bagi hari yang fitri ini, bukan lain adalah baju Koko yang dikenakan hampir oleh seluruh warga jakarta disetiap perayaan silaturahmi hari Lebaran. Bahkan baju yang ternyata adalah hasil dari akulturasi budaya Tionghoa dan Betawi ini juga turut serta dikenakan di wilayah di luar ibu kota, dikarenakan begitu pesatnya saling pengaruh budaya satu daerah dengan daerah lainnya.
            Baju Koko pertama kali dikenalkan oleh para pendatang tionghoa yang menetap di Batavia. Lantaran hidup berdampingan, lantas akulturasi pun tak terhindarkan. Remy Syaldo mengemukakan bahwasanya, suku Betawi lah yang mengadopsi model baju ini yang selanjutnya dikenakan pula oleh bangsa Indonesia. Namun, lain menurut Ridwan Saidi (Budayawan), menurutnya tidak ada proses adopsi antar budaya dalam rangka kemunculan baju Koko, melainkan karena perkembangan budaya yang universal saja.[1] Namun, mengenai perdebatan dari mana dan siapa yang melahirkan baju Koko adalah hal lain dari pada tujuan tulisan kali ini.
            Mungkin, berdasarkan argumen dari kedua ahli budaya diatas sekarang muncul dua kemungkinan. Yang pertama, baju Koko lahir karena local genius budaya Betawi (baca:Indonesia asli) sendiri. Yang kedua, Baju Koko adalah produk akultrasi budaya Tiongkok-Betawi. Berarti tidak salah kemudian bila hipotesis yang muncul sekarang adalah baju Koko bukanlah baju untuk orang Islam saja. Peranan budaya tiongkok dan Betawi sangat besar dalam kemunculan baju ini. Bahkan unsur keislaman tidak tercium begitu kencang.
            Namun sangat disayangkan. Generasi instan bangsa Indonesia era ini (Baca:Milenials), lebih memilih ikut-ikut arus mengenai pandangan baju Koko saat ini dan cenderung terlalu pragmatis menyikapinya. Hal itu demikian dibuktikan dari masih banyaknya rakyat Indonesia yang beranggapan bahwasanya baju Koko adalah baju Islam. Dan diantara mereka tidak jarang yang kemudian tidak mengenakannya saat Lebaran lantaran agamanya yang non-Islam.
            Percampuran budaya dan perkembangan budaya (pergeseran budaya) memang benar terjadi, dan pasti selalu terjadi. Selaras dengan pendapat Koentjoroningrat, yakni secara sederhana, perubahan budaya merupakan dinamika yang terjadi akibat benturan-benturan antar unsur budaya yang berbeda-beda. Namun begitulah kemudian kita dapat bercermin dan menyadari berkah dari betapa kayanya Nusantara ini. Dari ribuan budaya dan suku yang kemudian saling berbenturan satu sama lain. Yang akhirnya tidak pernah berhenti berakulturasi.

Jadi baju Koko, baju siapa? Baju adat nasional?


- Mr. Vladimir
Monggo diskusinya di bawah.



[1] Hasil wawancara oleh Tim Liputan 6, ditayangkan di Liputan 6 Siang SCTV, Selasa 30 Juni 2015

Komentar

Postingan Populer